SISTEM BILANGAN DAN KODE (2)
1. Mengenal, dan mendeskripsikan mengenai kode BCD kode gray
dan kode ASCII
a.
Sistem Binary Coded
Desimal(BCD) Sistem binary coded desimal (BCD) menyediakan cara yang mudah
untuk menangani sejumlah besar bilangan yang perlu diinput kan atau dioutput
kan dari PLC(Programmable Logic Controller). Sistem BCD menyediakan sarana
untuk mengkonversi kode yang siap ditangani oleh manusia (bilangan desimal)
menjadi kode yang siap ditangani oleh komputer maupun perangkat lainnya
(biner). Sistem BCD memakai 4-bit untuk mewakili tiap digit desimal. 4 bit yang
digunakan adalah setara biner dari angka dari 0 hingga 9. Dalam sistem BCD,
angka desimal terbesar yang dapat ditampilkan oleh empat digit adalah 9.
Representasi BCD dari angka desimal diperoleh dengan mengganti setiap digit
desimal dengan nilai BCD yang setara. Untuk membedakan kode BCD dengan sistem
bilangan biner, kode BCD ditempatkan di sebelah kanan digit unit. Biasanya
konversi BCD ke biner diperlukan untuk input sedangkan konversi biner ke BCD
diperlukan untuk output
b.
Kode Gray Kode Gray adalah jenis khusus dari
bilangan biner yang tidak menggunakan pembobotan posisi. Dengan kata lain,
setiap posisi tidak memiliki bobot yang pasti. Kode Gray diatur sehingga saat
kita maju dari satu nomor ke nomer yang berikutnya, hanya satu bit yang
berubah. Hal ini bisa sangat membingungkan untuk sirkuit penghitung, namun di
satu sisi sangat ideal untuk sirkuit encoder. Sebagai contoh, encoders absolut
adalah transduser posisi yang menggunakan kode Gray untuk menentukan posisi
sudut. Kode Gray memiliki keunggulan bahwa untuk setiap
"penghitungan" (setiap transisi dari satu angka ke yang berikutnya)
hanya satu digit yang berubah. Berikut ini adalah tabel perbandingan antara
bilangan biner dan kode gray.
Pada
bilangan biner, keempat digit bisa berubah untuk satu kali
"hitungan". Sebagai contoh, transisi dari biner 0111 ke 1000 (desimal
7 ke 8) melibatkan perubahan dalam keempat digit. Perubahan semacam ini
meningkatkan kemungkinan kesalahan pada sirkuit digital tertentu. Untuk alasan
ini, kode gray dianggap sebagai kode yang akan meminimalkan kesalahan.
c.
Kode ASCII ASCII adalah kependekan dari American Standard Code for Information
Interchange. ASCII ini merupakan kode alfanumerik, karena termasuk huruf dan
juga angka. Karakter yang diakses oleh kode ASCII mencakup 10 digit angka; 26
huruf kecil dan 26 huruf besar alfabet; dan sekitar 25 karakter khusus,
termasuk yang ditemukan pada mesin ketik standar. Kode ASCII ini digunakan
untuk antarmuka CPU PLC dengan keyboard dan printer alfanumerik. Kode ASCII
adalah kode yang memiliki tujuh-bit, angka desimal diwakili oleh kode BCD
8-4-2-1 yang didahului dengan 011. Huruf besar diawali dengan 100 atau 101.
Huruf kecil diawali dengan 110 atau 111. Karakter simbol didahului oleh 010,
011, 101, dan 111.
Kode
tujuh-bit ini menyediakan semua kombinasi karakter yang mungkin digunakan saat
berkomunikasi dengan periferal atau antarmuka dalam sistem PLC. Tombol pada
keyboard komputer dikonversi langsung ke ASCII untuk diproses oleh komputer.
Sebagian
besar kode ASCII(7-Bit) dan karakternya Setiap kali kita menekan tombol pada
keyboard komputer, informasi 7- atau 8-bit disimpan dalam memori komputer untuk
mewakili alfanumerik, fungsi, atau data kontrol yang dihasilkan dari tombol
keyboard yang ditekan. Modul input ASCII mengubah informasi input berupa kode
ASCII dari perangkat eksternal menjadi informasi alfanumerik yang dapat
diproses oleh PLC. d. Kode Excess-3 Excess-3 (juga dikenal sebagai 3-Excess,
10-Excess-3, kode Stibitz, XS[1]3,
3XS atau X3) adalah representasi bilangan biner berdasarkan pada kode BCD. Kode
Excess-3 ini digunakan pada beberapa komputer generasi pertama dan alat
elektronik genggam seperti kalkulator portable, dan juga telah digunakan dalam
mesin kasir
Dalam
Excess-3, konstanta 3 dikurangi dari nilai biner. Karena ada enam belas
kemungkinan kombinasi 4 bit, dan hanya sepuluh digit yang dapat di tampilkan(0
hingga 9), maka tidak semua kombinasi bit dianggap valid. Kombinasi bit yang
tidak valid antara lain: 0000, 0001, 0010, 1101, 1110 dan 1111. Excess-3
memiliki kelebihan dibandingkan dengan kode BCD, yaitu: 1. Menyederhanakan
logika Boolean yang diperlukan untuk melakukan penambahan dan pengurangan. 2.
Kode 0000 dan 1111 tidak mewakili angka yang valid. Ini merupakan contoh pola
yang dapat dihasilkan oleh kesalahan dalam pengiriman data atau memori
komputer, dan kode Excess-3 dapat mendeteksi kesalahan seperti itu.
2.
Mengkonversikan desimal menjadi kode excess-3, konversi bilangan biner menjadi
kode gray, dan sebaliknya.
a.
Konversi
Bilangan Desimal ke Excess-3 Kode Excess-3 berkaitan dengan kode BCD dan
terkadang dipakai untuk menggantikan kode BCD sebab dinilai memiliki keunggulan
dalam operasi aritmatika tertentu. Pengkonversian Kode Excess-3 menjadi
bilangan desimal dilakukan dengan metode yang sama dengan kode BCD, hanya saja
kita perlu menambahkan angka 3 disetiap digit desimalnya sebelum mulai
mengkonversikannya menjadi bilangan biner. Contoh pada bilangan desimal 32
masing-masing bitnya ditambahkan 3, sehingga berubah menjadi 65, maka kode
excess-3 nya ialah = 0110 0101
b.
Konversi
bilangan biner menjadi kode Gray Semu bilangan biner bisa dirubah menjadi
bentuk kode Gray melalui metode sebagai berikut :
·
Bit
awal dari code gray serupa dengan bit awal dari bilangan binernya
·
Bit
yang kedua dari kode gray serupa dengan ebntuk exclusive-OR dari bit awal dan
kedua dari bilangan biner (akan bernilai 1 jika kode biner tersebut bernilai
tidak sama, dan akan bernilai 0 apabila kedua bit tersebut bernilai sama).
·
Bit
kode gray ketiga serupa dengan bentuk exclusive-OR dari bit kedua, dan ketiga
dari bilangan biner, dan begitupun seterusnya.
c.
Konversi
kode Gray menjadi bilangan Biner Untuk mengubah kode gray menjadi bilangan
biner, dibutuhkan langkah yang berlawanan dengan prosedur konversi bilanga
biner menjadi kode gray, yaitu sebagai berikut:
·
Bit
biner pada bagian pertama nilainya sama dengan bit kode gray bagain pertama
·
Jika
bit kode gray yang kedua bernilai 0, maka bit biner kedua bernilai sama dengan
bit yang bertama, dan apabila bit kode gray kedua bernilai 1, maka bit biner
keduanya adalah bentuk kebalikan dari bit biner bagian pertama. 3. Melakukan
operasi aritmatika bilangan biner Unit sirkuit aritmatika membentuk suatu
bagian pada CPU. Operasi matematika yang dimaksud meliputi penambahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian. Penjumlahan biner mengikuti aturan yang
mirip dengan penjumlahan desimal. a. Penjumlahan Biner Saat melakukan
penjumlahan dengan bilangan biner, hanya ada empat kondisi yang dapat terjadi,
yaitu
2.
Mengkonversikan desimal menjadi kode excess-3, konversi bilangan biner menjadi
kode gray, dan sebaliknya.
a.
Konversi
Bilangan Desimal ke Excess-3 Kode Excess-3 berkaitan dengan kode BCD dan
terkadang dipakai untuk menggantikan kode BCD sebab dinilai memiliki keunggulan
dalam operasi aritmatika tertentu. Pengkonversian Kode Excess-3 menjadi
bilangan desimal dilakukan dengan metode yang sama dengan kode BCD, hanya saja
kita perlu menambahkan angka 3 disetiap digit desimalnya sebelum mulai
mengkonversikannya menjadi bilangan biner. Contoh pada bilangan desimal 32
masing-masing bitnya ditambahkan 3, sehingga berubah menjadi 65, maka kode
excess-3 nya ialah = 0110 0101
b.
Konversi
bilangan biner menjadi kode Gray Semu bilangan biner bisa dirubah menjadi
bentuk kode Gray melalui metode sebagai berikut :
·
Bit
awal dari code gray serupa dengan bit awal dari bilangan binernya
·
Bit
yang kedua dari kode gray serupa dengan ebntuk exclusive-OR dari bit awal dan
kedua dari bilangan biner (akan bernilai 1 jika kode biner tersebut bernilai
tidak sama, dan akan bernilai 0 apabila kedua bit tersebut bernilai sama).
·
Bit
kode gray ketiga serupa dengan bentuk exclusive-OR dari bit kedua, dan ketiga
dari bilangan biner, dan begitupun seterusnya.
c.
Konversi
kode Gray menjadi bilangan Biner Untuk mengubah kode gray menjadi bilangan
biner, dibutuhkan langkah yang berlawanan dengan prosedur konversi bilanga
biner menjadi kode gray, yaitu sebagai berikut:
·
Bit
biner pada bagian pertama nilainya sama dengan bit kode gray bagain pertama
·
Jika
bit kode gray yang kedua bernilai 0, maka bit biner kedua bernilai sama dengan
bit yang bertama, dan apabila bit kode gray kedua bernilai 1, maka bit biner
keduanya adalah bentuk kebalikan dari bit biner bagian pertama.
3.
Melakukan operasi aritmatika bilangan biner Unit sirkuit aritmatika membentuk
suatu bagian pada CPU. Operasi matematika yang dimaksud meliputi penambahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian. Penjumlahan biner mengikuti aturan yang
mirip dengan penjumlahan desimal.
a.
Penjumlahan
Biner Saat melakukan penjumlahan dengan bilangan biner, hanya ada empat kondisi
yang dapat terjadi, yaitu
Tiga
kondisi pertama mudah karena mereka seperti menambahkan desimal, tetapi kondisi
terakhir sedikit berbeda. Dalam desimal, 1 + 1 = 2. Dalam biner, 2 ditulis 10.
Oleh karena itu, dalam biner, 1 + 1 = 0, dengan membawa 1 ke nilai tempat
paling signifikan berikutnya. Saat menambahkan angka biner yang lebih besar,
nilai 1 yang dihasilkan dibawa ke kolom dengan tingkat yang lebih tinggi,
seperti yang ditunjukkan contoh berikkut ini ini:
b.
Pengurangan
Biner Dalam fungsi aritmatika, jumlah numerik awal yang digabungkan dengan
pengurangan adalah minuend dan subtrahend. Hasil dari proses pengurangan
disebut perbedaan, direpresentasikan sebagai:
Untuk
mengurangi dari angka biner yang lebih besar, kurangi kolom demi kolom, pinjam
dari kolom yang berdekatan bila perlu. Ingat bahwa ketika meminjam dari kolom
yang berdekatan, sekarang ada dua digit, misalkan, 0 meminjam 1 memberi 10
Prosedur
untuk mengurangkan angka menggunakan komplemen 1 adalah sebagai berikut: 1.
Ubah subtrahend ke komplemen 1. 2. Tambahkan dua angka. 3. Hapus carry terakhir
dan tambahkan ke nomor (end-around carry)
Ketika ada carry di akhir hasil, hasilnya positif. Ketika tidak ada carry, maka hasilnya negatif dan tanda minus harus ditempatkan di depannya. Untuk pengurangan menggunakan komplemen 2, komplemen 2 ditambahkan bukannya mengurangi angka. Pada hasilnya, jika carry adalah 1, maka hasilnya positif; jika carry adalah 0, maka hasilnya negatif dan membutuhkan tanda minus.
c. Perkalian Biner Angka biner dapat dikalikan dengan cara yang sama dengan angka desimal. Saat mengalikan angka biner, hanya ada empat kondisi yang dapat terjadi, yaitu:
Dalam
rangka mengalikan angka dengan nilai lebih dari satu digit, bentuk lah produk
parsial terlebih dahulu dan kemudian tambahkan bersama[1]sama, seperti yang
ditunjukkan pada contoh berikut.
d.
Pembagian
Biner Proses untuk membagi satu angka biner dengan yang lain sama untuk angka
biner dan desimal, seperti yang ditunjukkan dalam contoh berikut
Posting Komentar untuk "SISTEM BILANGAN DAN KODE (2)"